Nama guru : Khusnul Khotimah, S.Pd.
Mapel : PAI & PENDIDIKAN PANCASILA
Hari/Tanggal : Jum'at, 9 Oktober 2026
Fase / Kelas : C / 6A
Materi : STS day 2
Pertemuan Ke : 2
Tabik Pun 🙏
TTL: Sidodadi,10 Agustus 1989 Jenis kelamin:Perempuan Alamat: jl sakura.kp sinar harapan kelurahan Rajabasa jaya,kec,rajabasa.kota bandar Lampung. No hp: 085221413099 Medsos: Facebook dan instagram Guru SD Al-Azhar 2 B.Lampung
Nama guru : Khusnul Khotimah, S.Pd.
Mapel : PAI & PENDIDIKAN PANCASILA
Hari/Tanggal : Jum'at, 9 Oktober 2026
Fase / Kelas : C / 6A
Materi : STS day 2
Pertemuan Ke : 2
Tabik Pun 🙏
Good morning my lovely students. How are you?
KISI-KISI SOAL SUMATIF TENGAH SEMESTER GANJIL
1. Nilai-nilai Pancasila
2. Hak dan kewajiban
3.norma dan aturan
Musyawarah.
Nama guru : Khusnul Khotimah, S.Pd.
Mapel : B.Arab & TIK
Hari/Tanggal : Kamis, 8 Oktober 2026
Fase / Kelas : C / 6A
Materi : STS day 1
Pertemuan Ke : 1
Tabik Pun 🙏
Good morning my lovely students. How are you?
Nama guru : Khusnul Khotimah, S.Pd.
Mapel : Bahasa Indonesia
Hari/Tanggal : Kamis, 1 Oktober 2026
Fase / Kelas : C / 6A
Materi : Menyampaikan Perasaan Berdasarkan Fakta dan Imajinasi dalam Teks Sastra
Pertemuan Ke : 20
Tabik Pun 🙏
Good morning my lovely students. How are you?
Model: Discovery Learning
Metode: Ceramah interaktif, tanya jawab, diskusi kelompok, presentasi, dan demonstrasi.
Murid mampu mengidentifikasi perasaan berdasarkan fakta dan imajinasi dari pengalaman atau peristiwa yang diamati, mengembangkan perasaan tersebut menjadi teks sastra sederhana, kemudian menyampaikannya secara indah, menarik, santun, dan kreatif.
“Anak-anak, pernahkah kalian merasa sangat bahagia, sedih, bangga, atau terharu karena suatu peristiwa? Bagaimana jika perasaan tersebut kita ubah menjadi sebuah puisi atau cerita yang indah?”
Guru kemudian menyampaikan:
“Setiap orang memiliki pengalaman dan perasaan yang berbeda. Perasaan tersebut dapat kita ungkapkan melalui kata-kata. Hari ini kita akan belajar mengubah pengalaman, perasaan, fakta, dan imajinasi menjadi karya sastra yang indah dan menarik.”
Guru dapat mengaitkan pembelajaran dengan QS. Al-Insyirah ayat 5–6:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Kaitan dengan pembelajaran:
Murid belajar menyampaikan perasaan melalui kata-kata yang positif dan indah. Ketika menceritakan pengalaman yang sulit atau menyedihkan, murid dapat menyampaikan perasaannya sekaligus menemukan harapan, semangat, dan makna positif dari pengalaman tersebut.
Guru mengajak murid untuk menenangkan diri dan memusatkan perhatian sebelum pembelajaran.
Murid diajak menyadari bahwa setiap orang dapat memiliki perasaan yang berbeda terhadap suatu peristiwa. Perasaan tersebut dapat muncul berdasarkan pengalaman nyata maupun melalui imajinasi.
Guru mengajak murid mengingat suatu pengalaman yang berkesan, misalnya:
Guru memberikan pertanyaan pemantik:
Murid kemudian memahami bahwa perasaan dapat disampaikan melalui pilihan kata yang tepat dan kreatif.
Guru mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari murid.
Murid memahami bahwa perasaan seperti senang, sedih, takut, kecewa, bangga, kagum, terharu, dan bersyukur dapat dituangkan dalam bentuk teks sastra.
Beberapa bentuk teks sastra yang dapat digunakan antara lain:
Puisi dapat digunakan untuk mengungkapkan perasaan dengan kata-kata yang indah dan penuh makna.
Contoh:
Sekolahku
Pagi datang membawa cahaya
Langkah kecil menuju sekolah tercinta
Bertemu sahabat penuh tawa
Menuntut ilmu dengan bahagiaDi sini aku belajar dan bermimpi
Menjadi insan yang berguna nanti
Puisi tersebut menyampaikan perasaan senang, bangga, dan bersyukur terhadap sekolah.
Teks sastra adalah teks yang menggunakan bahasa yang indah dan kreatif untuk menyampaikan cerita, pengalaman, gagasan, perasaan, atau imajinasi penulis.
Teks sastra dapat berupa:
Dalam teks sastra, penulis dapat menceritakan sesuatu berdasarkan fakta, imajinasi, atau perpaduan antara fakta dan imajinasi.
Fakta adalah sesuatu yang benar-benar terjadi atau berdasarkan keadaan nyata dan dapat dibuktikan.
Contoh:
“Pada hari Minggu, Rani mengunjungi Museum Lampung bersama ayahnya.”
Peristiwa tersebut dapat dianggap sebagai fakta apabila benar-benar terjadi dan dapat dibuktikan.
Imajinasi adalah sesuatu yang berasal dari khayalan atau daya cipta seseorang dan belum tentu terjadi dalam kehidupan nyata.
Contoh:
“Rani bertemu seekor burung emas yang dapat berbicara dan mengajaknya terbang mengelilingi Pulau Sumatra.”
Burung yang dapat berbicara dan mengajak manusia terbang merupakan bagian dari imajinasi.
Ketika membaca teks sastra, kita dapat merasakan berbagai macam perasaan sesuai dengan peristiwa yang dialami tokoh.
Contoh perasaan:
Perasaan tersebut dapat muncul karena peristiwa nyata dalam cerita maupun peristiwa yang bersifat imajinatif.
Ketika menyampaikan perasaan berdasarkan fakta, kita harus menghubungkan perasaan dengan peristiwa yang benar-benar terjadi dalam teks.
Contoh:
“Saya merasa sedih ketika membaca bagian cerita tentang Dika yang kehilangan kucing kesayangannya. Peristiwa tersebut membuat saya membayangkan kesedihan Dika.”
Perasaan sedih didukung oleh fakta dalam cerita, yaitu tokoh Dika kehilangan kucing kesayangannya.
Contoh lainnya:
“Saya merasa bangga ketika tokoh utama berhasil memenangkan lomba setelah berlatih dengan tekun.”
Perasaan bangga muncul berdasarkan peristiwa yang terdapat dalam cerita.
Ketika menyampaikan perasaan berdasarkan imajinasi, kita dapat menggunakan daya khayal untuk membayangkan peristiwa atau keadaan dalam cerita.
Contoh:
“Saya merasa kagum ketika membayangkan sebuah istana yang berada di atas awan dan dikelilingi burung-burung bercahaya.”
Istana di atas awan dan burung bercahaya merupakan bagian dari imajinasi.
Contoh lainnya:
“Saya merasa senang membayangkan dapat berbicara dengan hewan-hewan di hutan seperti tokoh dalam cerita.”
Hal tersebut merupakan perasaan yang muncul berdasarkan imajinasi pembaca.
| Fakta | Imajinasi |
|---|---|
| Berdasarkan kenyataan | Berdasarkan khayalan/daya cipta |
| Dapat dibuktikan | Tidak harus dapat dibuktikan |
| Benar-benar terjadi | Belum tentu terjadi |
| Contoh: seorang anak pergi ke sekolah | Contoh: seorang anak terbang ke bulan |
| Peristiwa nyata | Peristiwa khayalan |
Untuk menyampaikan perasaan dengan baik, lakukan langkah berikut:
1. Membaca teks dengan teliti
Pahami isi cerita, tokoh, latar, dan peristiwa yang terjadi.
2. Menemukan peristiwa penting
Catat peristiwa yang membuat tokoh mengalami suatu keadaan.
3. Menentukan fakta dan imajinasi
Perhatikan bagian cerita yang berdasarkan kenyataan dan bagian yang merupakan khayalan.
4. Menentukan perasaan
Tentukan perasaan yang muncul, misalnya senang, sedih, takut, kagum, atau bangga.
5. Menjelaskan alasan
Jelaskan mengapa peristiwa tersebut menimbulkan perasaan tertentu.
6. Menyampaikan dengan bahasa yang santun dan jelas
Gunakan kalimat yang mudah dipahami dan sesuai dengan isi cerita.
“Sepeda Baru Raka”
Pada hari ulang tahunnya, Raka mendapatkan sebuah sepeda baru dari ayah dan ibunya. Raka sangat senang. Ia segera mencoba sepeda tersebut di halaman rumah. Setelah beberapa kali mencoba, Raka akhirnya dapat mengendarai sepeda tanpa bantuan.
Raka kemudian membayangkan bahwa sepedanya dapat terbang. Ia membayangkan dirinya mengendarai sepeda melewati awan dan melihat pemandangan kota dari atas langit.
Fakta dalam cerita:
Imajinasi dalam cerita:
“Saya merasa senang ketika membaca cerita Raka mendapatkan sepeda baru. Saya juga merasa bangga karena Raka tidak mudah menyerah saat belajar mengendarainya.”
“Saya merasa sangat gembira ketika membayangkan dapat mengendarai sepeda terbang melewati awan dan melihat pemandangan dari langit.”
| Perasaan | Contoh Ungkapan |
|---|---|
| Senang | “Saya merasa senang ketika membaca bagian cerita tersebut.” |
| Sedih | “Saya merasa sedih ketika tokoh kehilangan orang yang disayanginya.” |
| Takut | “Saya merasa takut ketika membayangkan tokoh berada sendirian di hutan.” |
| Kagum | “Saya merasa kagum dengan keberanian tokoh dalam menghadapi masalah.” |
| Bangga | “Saya merasa bangga karena tokoh tidak mudah menyerah.” |
| Terharu | “Saya merasa terharu ketika membaca kebaikan tokoh kepada temannya.” |
| Khawatir | “Saya merasa khawatir ketika tokoh berada dalam bahaya.” |
| Gembira | “Saya merasa gembira membayangkan petualangan tokoh di negeri ajaib.” |
Ayo Membaca dan Menyampaikan Perasaan!
Guru memberikan sebuah teks sastra kepada murid.
Murid kemudian:
Format LKPD:
| No. | Peristiwa dalam Teks | Fakta/Imajinasi | Perasaan Saya | Alasan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Raka mendapat sepeda baru | Fakta | Senang | Karena Raka mendapat hadiah |
| 2 | Sepeda dapat terbang | Imajinasi | Gembira | Saya membayangkan dapat terbang |
| 3 | Raka berhasil mengendarai sepeda | Fakta | Bangga | Raka tidak mudah menyerah |
Menyampaikan perasaan berdasarkan fakta dan imajinasi dalam teks sastra berarti mengungkapkan perasaan setelah memahami peristiwa dalam cerita, baik peristiwa yang benar-benar terjadi maupun peristiwa yang berasal dari khayalan. Dalam menyampaikan perasaan, murid perlu menyebutkan peristiwa yang menjadi alasan munculnya perasaan tersebut dengan bahasa yang jelas, santun, dan kreatif.
Nama guru : Khusnul Khotimah, S.Pd.
Mapel : Pendidikan Pancasila
Hari/Tanggal : Kamis, 7 Oktober 2026
Fase / Kelas : C / 6A
Materi : Melestarikan keberagaman budaya
Pertemuan Ke : 21
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tabik Pun! 🙏
Good morning my lovely students. How are you today?
Sebelum belajar, mari kita mengingat kehidupan sehari-hari.
Pernahkah kalian mendapatkan hak untuk belajar di sekolah?
Pernahkah kalian meminta orang lain menghargai pendapat kalian?
Apakah kalian juga sudah melaksanakan kewajiban belajar, menaati aturan sekolah, dan menghormati orang lain?
Metode / Model : Diskusi kelompok, tanya jawab, bermain peran, dan simulasi / Problem Based Learning (PBL) melalui praktik musyawarah di masyarakat.
Media / Alat peraga : Video/gambar keberagaman budaya di masyarakat, gambar pakaian adat, rumah adat, tarian daerah, makanan tradisional, kartu kasus, LKPD, kertas plano, spidol, dan papan tulis.
ATP : Murid dapat mengidentifikasi dan menyajikan sikap menghormati, menjaga, dan melestarikan keberagaman budaya di lingkungan masyarakat melalui kegiatan diskusi, musyawarah, dan bermain peran, dengan menunjukkan sikap menghargai perbedaan budaya, tidak merendahkan budaya lain, menjaga kerukunan, serta ikut melestarikan budaya sebagai wujud Bhinneka Tunggal Ika.
Guru mengajak murid untuk menenangkan diri dan menyadari bahwa Indonesia memiliki keberagaman budaya yang merupakan kekayaan bangsa. Setiap daerah memiliki budaya yang berbeda, seperti bahasa daerah, pakaian adat, rumah adat, tarian, makanan tradisional, lagu daerah, kesenian, dan tradisi.
Murid diajak memahami bahwa perbedaan budaya bukan alasan untuk saling mengejek atau merendahkan, tetapi merupakan kekayaan yang harus dihormati dan dijaga.
Guru mengajak murid menyadari bahwa kehidupan masyarakat yang beragam membutuhkan sikap saling menghormati, toleransi, gotong royong, dan menjaga kerukunan.
Guru memberikan pertanyaan pemantik:
Guru mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata murid di lingkungan masyarakat.
Murid diajak mengidentifikasi keberagaman budaya yang ada di lingkungan sekitar, misalnya:
Murid kemudian mengidentifikasi sikap yang tepat dalam menghadapi keberagaman tersebut.
Contohnya:
| Keberagaman Budaya | Sikap Menghormati | Sikap Menjaga/Melestarikan |
|---|---|---|
| Bahasa daerah | Tidak mengejek logat atau bahasa daerah orang lain | Belajar menggunakan bahasa daerah dengan baik |
| Pakaian adat | Menghargai pakaian adat daerah lain | Menggunakannya dalam kegiatan budaya |
| Tarian daerah | Tidak merendahkan tarian daerah lain | Mempelajari dan memperkenalkannya |
| Makanan tradisional | Menghargai makanan khas daerah lain | Mengenalkan dan menjaga makanan tradisional |
| Tradisi masyarakat | Menghormati tradisi yang berbeda | Ikut menjaga tradisi yang baik |
Murid memahami bahwa Bhinneka Tunggal Ika berarti walaupun masyarakat Indonesia memiliki banyak perbedaan budaya, tetap dapat hidup bersama dalam persatuan.
Guru membagi murid menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok mendapatkan kartu kasus keberagaman budaya di masyarakat.
Masyarakat akan mengadakan festival budaya. Setiap warga ingin menampilkan budaya daerahnya masing-masing. Ada warga yang menganggap budaya daerah tertentu lebih baik daripada budaya lainnya.
Tugas kelompok:
Bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut melalui musyawarah agar semua budaya dapat dihargai?
Contoh hasil musyawarah:
“Setiap warga diberikan kesempatan menampilkan budaya daerahnya. Semua peserta wajib menghormati penampilan budaya lain dan tidak merendahkan budaya yang berbeda.”
Dalam kegiatan masyarakat, beberapa warga menggunakan bahasa daerah yang berbeda. Ada seorang anak yang menertawakan temannya karena tidak memahami bahasa daerah tersebut.
Tugas kelompok:
Bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan masyarakat?
Contoh hasil musyawarah:
“Masyarakat menghormati penggunaan bahasa daerah yang berbeda dan menggunakan bahasa yang dapat dipahami bersama ketika berkomunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman.”
Di lingkungan masyarakat terdapat permainan tradisional yang mulai jarang dimainkan anak-anak karena lebih sering menggunakan permainan digital.
Tugas kelompok:
Apa kesepakatan yang dapat dibuat masyarakat untuk melestarikan permainan tradisional tersebut?
Contoh hasil musyawarah:
“Masyarakat akan mengadakan kegiatan permainan tradisional secara rutin dan mengajak anak-anak untuk mengenal serta memainkan permainan tradisional sebagai salah satu cara melestarikan budaya.”
Setiap kelompok menentukan:
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
Artinya:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehendak Allah SWT. Perbedaan suku, bangsa, dan budaya seharusnya menjadi kesempatan untuk saling mengenal, menghargai, dan hidup rukun.
Murid dapat menerapkan nilai tersebut dengan menghormati budaya yang berbeda, tidak mengejek budaya lain, serta ikut menjaga dan melestarikan budaya yang ada di lingkungan sekitar.
Melalui pembelajaran ini, murid diharapkan mampu:
MATERI AJAR
Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman budaya. Setiap daerah memiliki budaya yang berbeda-beda, seperti bahasa daerah, pakaian adat, rumah adat, tarian tradisional, lagu daerah, makanan khas, kesenian, permainan tradisional, dan adat istiadat.
Keragaman budaya merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus kita syukuri, hormati, jaga, dan lestarikan.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan bahwa walaupun masyarakat Indonesia memiliki perbedaan suku, bahasa, agama, adat istiadat, dan budaya, kita tetap satu sebagai bangsa Indonesia.
Melestarikan budaya adalah usaha untuk menjaga, mempertahankan, mengenalkan, dan meneruskan budaya kepada generasi berikutnya agar tidak hilang atau terlupakan.
Melestarikan budaya bukan berarti menolak budaya baru. Kita dapat mengenal budaya modern sekaligus tetap menjaga budaya daerah sebagai identitas bangsa.
Keragaman budaya perlu dilestarikan karena:
| Bentuk Budaya | Contoh |
|---|---|
| Bahasa daerah | Bahasa Jawa, Sunda, Lampung, Bali |
| Rumah adat | Rumah Gadang, Rumah Joglo, Rumah Honai |
| Pakaian adat | Ulos, Baju Bodo, Pakaian Adat Lampung |
| Tarian | Tari Saman, Tari Piring, Tari Pendet |
| Lagu daerah | Ampar-Ampar Pisang, Gundul-Gundul Pacul, Cublak-Cublak Suweng |
| Makanan tradisional | Rendang, Pempek, Gudeg, Seruit |
| Permainan tradisional | Congklak, Engklek, Gobak Sodor |
| Kesenian | Wayang, Batik, Anyaman, Ukiran |
| Tradisi | Upacara adat, gotong royong, dan berbagai tradisi daerah |
Melestarikan budaya dapat dilakukan mulai dari diri sendiri, keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Teknologi juga dapat digunakan untuk melestarikan budaya, misalnya:
Murid yang ikut melestarikan budaya dapat menunjukkan sikap:
Menghormati → tidak mengejek budaya daerah lain.
Menghargai → memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperkenalkan budayanya.
Mempelajari → mau belajar bahasa, tarian, lagu, permainan, atau kesenian daerah.
Menjaga → tidak merusak benda atau tempat yang memiliki nilai budaya.
Mengenalkan → memperkenalkan budaya daerah kepada teman dan masyarakat.
Menggunakan → menggunakan produk dan karya budaya lokal dengan bangga.
Meneruskan → mengajarkan budaya yang baik kepada generasi berikutnya.
Contoh 1:
Temanmu berasal dari daerah yang berbeda dan menggunakan bahasa daerahnya.
Sikap yang tepat:
Menghargai bahasa tersebut dan tidak menertawakan cara berbicaranya.
Contoh 2:
Sekolah mengadakan kegiatan menggunakan pakaian adat.
Sikap yang tepat:
Menggunakan pakaian adat dengan bangga dan menghargai pakaian adat teman.
Contoh 3:
Masyarakat mengadakan pertunjukan tarian daerah.
Sikap yang tepat:
Menonton dengan tertib, menghargai penampilan, dan tidak mengejek tarian tersebut.
Contoh 4:
Permainan tradisional mulai jarang dimainkan anak-anak.
Sikap yang tepat:
Mengajak teman memainkan permainan tradisional dan mengenalkan aturan permainannya.
Melestarikan budaya tidak berarti hanya menjaga budaya daerah sendiri. Kita juga harus menghormati dan menghargai budaya daerah lain.
Contohnya, ketika teman memiliki budaya yang berbeda, kita tidak boleh mengatakan bahwa budaya kita lebih baik. Setiap budaya memiliki keunikan dan nilai yang dapat dipelajari.
Dengan saling menghormati, masyarakat dapat hidup rukun meskipun memiliki budaya yang berbeda.
Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan kita untuk:
Berbeda budaya, tetap saling menghormati.
Berbeda daerah, tetap bersatu sebagai bangsa Indonesia.
Kegiatan: “Ayo Lestarikan Budaya Indonesia!”
Murid dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok memilih satu bentuk budaya Indonesia, misalnya:
Kemudian kelompok membuat poster/infografis sederhana yang berisi:
Setelah selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasilnya di depan kelas.
Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai suku dan bangsa agar kita saling mengenal, bukan saling merendahkan.
QS. Al-Hujurat ayat 13:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
Ayat ini mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan dan hidup rukun. Keragaman budaya merupakan bagian dari kekayaan kehidupan yang perlu dijaga dengan sikap saling menghormati.
Keragaman budaya merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dihormati, dijaga, dan dilestarikan. Setiap murid dapat berperan dalam melestarikan budaya dengan mempelajari budaya daerah, menghargai budaya lain, mengikuti kegiatan budaya, menjaga tradisi yang baik, serta mengenalkan budaya Indonesia kepada orang lain. Dengan demikian, kita dapat menjaga persatuan dan menerapkan semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.
Nama guru : Khusnul Khotimah, S.Pd. Mapel : PAI & PENDIDIKAN PANCASILA Hari/Tanggal : Jum'at, 9 Oktober 20...